Bisnis Model: 8 Cara untuk mendesain Bisnis Model baru

Business Model Sparks, 8 Ways to design a new business model

0
864
Bisnis Model
Design new business model

Bisnis Model bisa usang di telan waktu, bisa karena kondisi persaingan yang semakin ketat, atau kedatangan pemain baru. Untuk itu kita harus selalu berinovasi untuk memastikan keberlanjutan usaha dengan menerapkan bisnis model baru.

Setting bisnis model baru atau meredesain bisnis model yang saat ini sedang berjalan memerlukan fokus. Fokus untuk memetakan / merenungkan kembali aktifitas, sumber daya, flow bisnis dan aturan-aturan yang ada secara lengkap menjadi model yang terintegrasi.

Berikut ini saya perkenalkan “Business Model Sparks” untuk menginspirasi kita bersama untuk melakukan inovasi bisnis model. Ketika mendesain bisnis model baru, tetap berpegang kepada insight yang bisa kita dapatkan dari customer dan noncustomer, kebutuhan dan pengalaman yang diperoleh customer.

8 Sparks ini saya ambil dari buku “The Art of Opportunity”. Disarankan kita menggunakan masing-masing point sparks dibawah ini satu demi satu dan mencoba mendesain berbagai macam kemungkinan bisnis model yang bisa ditemukan. “Don’t hesitate to go to extreme”, salah satu kata yang saya dapatkan dari buku itu, extreme terkadang membuat segala sesuatunya menjadi make a lot of sense.

8 CARA MENDESAIN BISNIS MODEL BARU

1. Assess your existing Business Model

Starting point untuk mere-desain bisnis model adalah dengan mengevaluasi bisnis model yang ada. Kebanyakan perusahaan masih belum memahami secara jelas current business model nya dengan baik. Ambil value dari current business model, garis bawahi key activities, assets, process dan pahami masing-masing sebelum membuat inovasi.

Question to consider:

  • Apa saja asset yang paling berharga perusahaan?
  • Aktifitas apa yang paling perform baik di value chain?
  • Aktifitas yang telah dilakukan membuat selama ini sukses di industry?
  • Bisnis model yang seperti apa yang paling dominan di industry?
  • Apa advantage dan disadvantages dari setiap bisnis model yang ada?
  • Sebaik apa aktifitas diatas kita lakukan bersama?
  • Bagaimana aktifitas saling menguatkan satu dengan yang lain?
  • Sebaik apa kita bisa memenuhi ekspektasi pelanggan?

2. Create New Activities

New Business Model dan Growth akan muncil dengan melakukan aktifitas baru juga. Misal: tambahkan fungsi home delivery atau diambil sendiri.

Question to Consider:

  • Aktifitas apa yang kita butuhkan untuk memenuhi kebutuhan customer?
  • Bagian mana yang ingin kita lakukan , dan mana yang menjadi kemampuan utama?
  • Aktifitas apa yang tidak memberikan nilai apapun bagi customer?
  • New Activities apa yang perlu dilakukan dalam value chain untuk meningkatkan customer experience?
  • Bisakah kita mengeliminasi aktifitas yang tidak perlu?
  • Aktifitas apa yang sudah kada luarsa dan perlu dihilangkan?
  • Aktifitas apa yang bisa kita outsource, apakah bisa di alih daya kan ke customer?

3. Unbundle your Business Model

Ketika melakukan new activities dapat berarti menambahkan aktifitas baru, new business model juga bisa muncul dengan unbundling existing business model. Sebagai contoh perusahaan provider telekomunikasi, mereka punya tiga main activities: (1) mengembangkan infrastruktur jaringan, (2) Marketing, sales, dan customer contract management, dan (3) developing content offerings, c:/ music services.

Bharti Airtel (India) dan Telkomsel (Indonesia), membuat bisnis model baru dengan melakukan unbundling dengan melepaskan beberapa activities yang bukan core business. Seperti meng-outsource infrastruktur network nya, juga produksi konten nya dilepas ke partner. Dengan outsource tersebut, telkomsel dan Bharti Airtel menfokuskan resource nya untuk melakukan diferensiasi. Dengan hanya membayar network atas pemakaian dll, berarti mereka bisa mengurangi fixed cost menjadi variable cost yang tentunya lebih murah.

Ada satu lagi contoh:/ IKEA, mereka membuat bisnis model dengan mengeliminasi pengiriman dan perakitan produk dan mengoutsource kepada customernya.

Question to consider:

  • Apa core business kita?
  • Aktifitas apa yang bisa dilakukan lebih baik oleh orang lain?
  • Bagaimana unbundling business model bisa membantu kita untuk lebih fokus kepada sumber daya on our core capabilities?
  • Bagian bisnis yang mana yang memberikan value untuk customer dan perbedaan untuk kita?

4. Collaborate with Supplier, Partners, Your Network, and your Ecosystem

Bisnis model yang dibangun akan banyak aktifitas yang tidak bisa dilakukan sendiri. Atau lebih tempatnya bukan core capabilities kita, untuk itu kita membutuhkan kolaborasi dengan ekosistem suppliers dan partners. Beberapa bisnis tidak dapat bertahan tanpa partner. Inovasi bisnis model yang baik tidak melihat partner hanya sebagai supplier, tapi mencoba untuk membuat real value adding relationship dengan stakeholder ekosistem.

Question to consider:

  • Aktifitas mana yang kita melakukannya dengan baik?
  • Cost apa yang bisa dikurangi jika menggunakan supplier dan partner dibandingkan dengan internal resources?
  • Aktifitas apa yang tidak terlalu penting untuk dilakukan?
  • Apakah kita punya akses khusus ke partner?
  • Sebaik apa kita memanfaatkan hubungan baik dengan stakeholder dari ekosistem?
  • Bagaimana kita dapat lebih intensifkan hubungan dengan partner untuk membuat bisnis model yang unik?
  • Jika kita baru memulainya. Mana aktifitas yang bisa dilakukan sendiri dan mana yang berkolaborasi dengan partners?

5. Establish New and Different Links and Sequences Between Activities

Mengubah flow atau urutan bagaimana cara melakukan aktifitas adalah strategi lain untuk mendesain bisnis model baru. Sebagai contoh adalah Dell, mereka mengubah pola penjualan tradisional (produksi sebanyak2nya lalu menjual di pasaran) menjadi pre-order. Pre-Order berarti menjual barangnya terlebih dahulu sebelum memulai manufacturing. Artinya dell punya kesempatan untuk memetakan pasar dan demand.

Begitu pula dengan Zara yang mengubah pola penjualannya dari two season (spring/summer dan autum/winter) menjadi new cycle every month.

Question to consider:

  • Bisakah kita mendesain core process dengan berbeda untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas?
  • Bagaimana kita bisa menggunakan data untuk mengubah proses?
  • Seperti apa proses kita jika melakukannya secara terbalik?
  • Bagaiman kita bisa mengintegrasikan supply chain kita?

6. Use Your Assets and Resources in New Ways

New Business Model Ide bisa muncul dari memikirkan ulang bagaimana menggunakan existing asset dengan cara yang baru. Sebagai contoh di bisnis hotel dan airline. Dengan asset hotel yang sama bisa digunakan untuk melayani banyak segmen customer sekaligus. Dengan menambah kelas economi, bisnis dan first class atau single room, twin bed atau suites.

Question to Consider:

  • Bagaimana kita menggunakan asset untuk membuat bisnis baru?
  • Apa asset utama kita?
  • Apa keunggulan dari memiliki asset ini?
  • Kita gunakan untuk apa asset itu saat ini?
  • Apa cara lain untuk menggunakan asset dan resources ini?
  • Asset apa yang membedakan / unik dan tidak bisa ditiru dan digantikan secara mudah oleh orang lain atau barang lain?

7. Re-Think your Channels

Many business model innovation muncul dari mengubah cara perusahaan berkomunikasi dengan customer. Going direct, indirect, establishing pop-up store, franchising, membuat lisensi dan banyak lagi strategi lainnya yang bisa dipertimbangkan.

Question to consider:

  • Where, when, and dalam keadaan apa pelanggan kita biasa butuh/beli/menggunakan produk dan layanan kita?
  • Seberapa mudah / sulit customer menemukan dan membeli produk kita?
  • Seberapa mudah pelanggan melakukan bisnis dan berinteraksi dengan kita?
  • Bagaimana cara menyelaraskan channel dan proses dengan kebutuhan customer?
  • Bagaimana ktia mengembangkan “customer total buying cycle experience”?
  • Bagaiman dengan noncustomer? bagimana kita bisa menjangkaunya?
  • Apa distribution channel baru dan poin inovasi apa yang bisa kita kembangkan?

8. Digital Transformation: Take Activities Online

Digital transformation of business model mean taking activities online and enabling activities that were not possible before.

Question to consider:

  • Aktifitas apa yang bisa dilakukan online?
  • Bagaimana membuat customer experience lebih efisien dan efektif?
  • Bagaimana cara memanfaatkan teknologi?
  • Apakah kita ketergantungan sekali dengan conventional channel?
  • Pertimbangkan untuk menawarkan (co-creation) experience kepada customer?
  • Semudah apa melakukan bisnis dengan perusahaan kita?

 

Semoga bermanfaat!

Leave a Reply