Statistik Digital Indonesia 2017, Peluang atau Ancaman Untuk UKM Indonesia?

0
581
statistik digital indonesia 2017
statistik digital indonesia 2017

Statistik Digital Indonesia 2017. Seperti yang disebutkan oleh We Are Social dan Hootsuite, 2017. Pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta orang. Dengan total pengakses internet via mobile sebesar 92 juta atau 35% dari total pengguna internet.

Dari total penduduk Indonesia 262 juta orang, penetrasi pengguna internet di indonesia mencapai 51%. Dan ini angka yang luar biasa jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapore (36%) dan Malaysia (31%). Penetrasi terbesar disumbang dari sektor media social, dengan penetrasi sebesar 40%, pengguna Sosmed mencapai 106 juta orang.

Statistik Digital Indonesia 2017 bidang Dagang-el (eCommerce)

Dengan penetrasi internet yang pesat di indonesia, rupanya berpengaruh terhadap pertumbuhan penjualan online. Jumlah orang memesan barang via eCommerce (Dagang-el) sepanjang tahun 2017 sebanyak 24,74 juta. Dengan nilai pasar dagang-el pada tahun 2016 sebesar US$ 5,6 miliar. Dengan pertumbuhan penjualan online itu, penetrasi perdagangan online di Indonesia sebesar 9%.

Statistik Digital Indonesia 2017
Statistik Digital Indonesia 2017

Respon UMKM terhadap dagang-el

Jika dilihat dari pertumbuhan dagang-el yang mencapai 9%, tentunya ada sektor yang terdampak. Salah satunya adalah sektor UMKM. Sektor UMKM terdampak positif dengan adanya dagang-el seperti lazada, tokopedia, bukalapak, sophee, dan lain-lain. Banyak UMKM yang menjual barangnya via online, baik dari aplikasi ecommerce yang sudah terkenal maupun melalui aplikasi chat seperti whatsapp dan line.

Sebagai contoh, penjualan online baju muslimah, jilbab. Cewek-cewek jaman now yang berbusana muslim lebih senang untuk membeli lewat online. Karena kesibukan bekerja ataupun lebih mudah untuk melakukan order. Tinggal lihat di platform ecommerce (sophee, hijabenka dll) ataupun lewat instagram. Apalagi sekarang bisa dikirim dan bayar dengan instan via GOJEK dan GOPAY.

Satu yang menjadi perhatian dari pemerintah mengenai transaksi dagang-el adalah perpajakan. Karena penjualan online lewat ecommerce dan instagram ini masih berada di luar jangankauan kontrol pemerintah. Transaksi via chat mengakibatkan UMKM yang melakukan penjualan bisa tidak mengenakan pajak. Sehingga berpotensi untuk menurunkan pendapatan pemerintah dari sektor pajak.

Peluang atau ancaman?

UMKM mengalami banyak perkembangan di era dagang-el sekarang ini. Sampai ada komunitas khusus UKM digital seperti eUKM.online yang mengadakan acara roadshow kenduri eUKM nasional.

Namun ada yang harus kita perhatikan, dagang-el ini kedepannya apakah  menjadi peluang atau ancaman bagi Indonesia?

Mari kita lihat siapa saja pemain besar dagang-el di Indonesia saat ini. Lazada, tokopedia, blibli.com, elevenia, bukalapak, matahari mall, jd.id, bhinneka, blanja.com, alfacart dll.

Dan ternyata kebanyakan yang disebutkan diatas kepemilikan saham utamanya adalah dari asing. Di lain pihak dagang-el sangat membantu perkembangan usaha di indonesia, tapi di sisi lain uang hasil investasi nya tidak 100% masuk ke indonesia. Melain kan dibawa ke luar negeri sebagai hasil bagi hasil usaha dagang-el nya.

Pemain besar ecommerce indonesia
Pemain besar ecommerce indonesia

Digital Business Phenomenon in Indonesia

Digital Business Phenomenon in Indonesia
Digital Business Phenomenon in Indonesia

Dari diagram kepemilikan dagang-el di Indonesia diatas bisa dilihat bahwa pemain utama dagang-el di indonesia ujung-ujunganya adalah beberapa pemain besar saja. Tencent mempunyai saham besar di Shopee, JD.id, GOJEK dan Grab. Sementara Alibaba Group menguasai saham LAZADA dan Ali Express. Meskipun ada Group Djarum yang mulai menggeliat di eCommerce dengan blibli.com dan tiket.com nya, tapi porsi nya masih sangat kecil dibandingkan dengan pemain asing asal China.

Bonus demografi yang Indonesia miliki memang sangat menggiurkan dunia untuk masuk ke market Indonesia. Ditambah, masyarakat indonesia dikenal konsumtif dan beragam.

Semoga dengan masih minornya peran bangsa Indonesia sebagai market dagang-el, menjadi sebuah peluang besar bagi pemerintah dan pelaku bisnis lainnya untuk berkembang. Jika tidak, pemain asing macam Tencent dan Alibaba akan mengeruk keuntungan sebesar-besarnya di Indonesia.

 

Leave a Reply